Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts

10/19/11

Strategi Publik Relations

2.1 Tinjauan Tentang Public Relations
2.1.1 Definisi Public Relations
Dalam buku Human Relations dan Public Relations Onong Uchjana Effendy mengutip dari perkataan Cultip dan Certer dalam bukunya yang sama Human Relations dan Public Relations mengatakan : “Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seorang organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan kegiatan untuk menarik perhatian dan dukungan publik lain dengan pendapat dari Rosandy Ruslan dalam bukunya kampanye Public Relations (hal 4 2002) yan menkutip dari John E. Marston dalam bukunya (Modern PR New York : MC Graw – Hill 197) mengatakan “Public Relations sama dengan bidang periklanan (Advertising), atau bidang komunikasi lainya yang bukan merupakan ilmu tradisional yang hanya digunakan untuk tujuan terbatas sesaat. Public Relations merupakan fungsi manajemen untuk mencapai target tertentu yang sebelumnya harus memiliki program tertentu kerja yang jelas dan rinci, mencari fakta, merencanakan, mengkomunikasikan, hingga mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapainya.

Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi adalah komunikasi antar manusia yang terjadi dalam konteks organisasi, terjadi jaringan pesan satu sama lain yang bergantung satu sama lain.
Definisi Komunikasi Organisasi
Menurut Pace & Feules, ada dua perspektif utama yang akan mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi didefinisikan, yaitu (1) perspektif objektif dan (2) perspektif subjektif.

Perspektif objektif menekankan definisi komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Fokusnya adalah penanganan pesan, yakni menerima, menafsirkan, dan bertindak berdasarkan informasi dalam suatu peristiwa komunikasi organisasi. Komunikasi dipandang sebagai alat untuk merekayasa atau mengkonstruksi organisasi yang memungkinkan individu (anggota organisasi) beradaptasi dengan lingkungan organisasi.

6/10/11

Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

Komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi tentu mempunyai fungsi.
Menurut Haryani fungsi komunikasi dalam organisasi adalah:1
a. Informatif
Dalam kegiatannya, baik karyawan maupun manajer membutuhkan banyak sekali informasi agar dapat menyelesaikan tugas-tugas secara efisien. Pada prinsipnya mereka membutuhkan informasi mengenai: pertama, hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya itu sendiri, seperti: tujuan yang harus dicapai, prosedur atau aturan-aturan yang berlaku. Kedua, keberhasilan yang dicapai perusahaan, misalnya dalam hal: laba dan standar kerja. Terakhir, mengenai sosioemotional perusahaan secara keseluruahan.
b. Regulatori
Komunikasi juga berfungsi sebagai pengendali dan pengatur perusahaan. Komunikasi yang berfungsi sebagai pengendali ini
berupa perintah dan laporan.
c. Persuasif
Fungsi persuasif pada umumnya tercermin dalam interaksi antar karyawan, dimana seseorang berupaya agar orang yang diajak komunikasi menerima ide, jalan pikiran, dan penugasan darinya.
d. Integratif
Komunikasi dalam organisasi juga berfungsi sebagai integrative. Yakni membuat organisasi beropersi secara utuh dan terpadu. Termasuk di sini adalah koordinasi dan penjadwalan aktivitas, penetapan saluran informasi dan otoritas serta untuk menarik dan melatih karyawan


Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi adalah komunikasi antar manusia yang terjadi dalam konteks organisasi, terjadi jaringan pesan satu sama lain yang bergantung satu sama lain.
Definisi Komunikasi Organisasi
Menurut Pace & Feules, ada dua perspektif utama yang akan mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi didefinisikan, yaitu (1) perspektif objektif dan (2) perspektif subjektif.

Perspektif objektif menekankan definisi komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Fokusnya adalah penanganan pesan, yakni menerima, menafsirkan, dan bertindak berdasarkan informasi dalam suatu peristiwa komunikasi organisasi. Komunikasi dipandang sebagai alat untuk merekayasa atau mengkonstruksi organisasi yang memungkinkan individu (anggota organisasi) beradaptasi dengan lingkungan organisasi.

Perspektif subjektif mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai proses penciptaan makna atas interaksi diantara unit-unit organisasi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Fokusnya adalah bagaimana individu anggota organisasi bertransaksi dan kemudian memberi makna terhadap peristiwa komunikasi yang terjadi. Dalam arti lain, bagaimana anggota organisasi berperilaku akan bergantung kepada makna informasi itu bagi mereka.

Dengan demikian, definisi komunikasi organisasi baik dilihat dari perspektif objektif maupun perspektif subjektif adalah sebagai proses penciptaan dan penafsiran informasi diantara unit-unit komunikasi sebagai bagian dari suatu organisasi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, komunikasi organisasi dipandang sebagai proses mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi di antara unit-unit organisasi yang memungkinkan sistem komunikasi organisasi berfungsi secara efektif.

Definisi

1. Pace & Feules : Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai penunjukan dan penafsiran suatu pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.
2. Devito: komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan baik dalam organisasi di dalam kelompok formal maupun kelompok informal organisasi.
3. Wiryanto : Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

1. Goldhaber: komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Definisi ini mengandung tujuh konsep kunci yaitu proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan, dan ketidakpastian.
2. Katz & Kahn: komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi, dan pemindahan arti di dalam ;suatu organisasi.

By ASM. Romli/www.romeltea.com REFERENSI: Komunikasi Organisasi karya Arni Muhammad (Bumi Aksara, 2007); R. Wayne Pace, Don F. Faules (Rosdalarya, 2001); H. Rochajat Harun, Ir., M.Ed., Ph.D., (Mandarmaju, 2008), Komunikasi dalam Organisasi karya Gunawan Jiwanto (Pusat Pengembangan Manajemen & Andi Offset, Yogyakarta 1985).*

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2023370-komunikasi-organisasi-definisi/#ixzz1OwGA9bwP

Komunikasi Media Televisi

Media telivisi mampu membangkitkan respon positif sekaligus negatif bagi seluruh komponen masyarakat dunia termasuk Indonesia dengan berbagai versi dan alasan yang jelas, kendati media telivisi menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat setidaknya media telivisi jangan dimaknai terlalu sempit, karena dengan kehadirannya telivisi juga sebagai informasi yang penting untuk diminati. Media telivisi merupakan salah satu elemen penting pesan komunikasi massa budaya manusia.


Perkembangan teknologi komunikasi massa dalam bentuk media massa khususnya media telivisi telah memungkinkan terjadinya globalisasi informasi. Oleh karena itu, kita harus siap untuk menghadapi menjanurnya informasi disegala bidang, informasi melalui medium telivisi dan internet yang mengalir tanpa batas tampaknya tidak terbendung oleh jarak, ruang, dan waktu.

Media telivisi baik swasta maupun negeri menampilkan berbagai performa yang berbeda-beda dalam segi tayangannya, isi dan pesan yang disuguhkan juga beraneka-ragam. Tetapi, heterogenitas media telivisimempunyai prinsip yang sama dengan media-media massa lainnya yaitu merupakan sebuah institusi yang melembaga yang berfungsi menyampaikan informasi kepada khalayak sasarannya agar well informed (tahu informasi).

Dalam segala perannya, telivisi bukan tidak mempunyai dampak sosiologis terhadap penggemarnya, karena tingkat pemahaman pemirsa terhadap isi pesan acara telivisi berkaitan erat dengan status sosial ekonomi serta situasi dan kondisi pemirsa pada saat menonton divisively. Ada dua dampak yang ditimbulkan acara telivisi , yaitu (1) Dampak Informatif, yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan telivisi dan melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. (2) Dampak Peniruan, yaitu pemirsa dihadapkan pada tren aktual yang ditayangkan telivisi contohnya; model pakaian, model rambut para bintang telivisi.(39-40).

Kehadiran buku Komunikasi Massa Media Telivisi sangat penting untuk disimak dan dibaca sebagai jawaban atas pesan-pesan acara media telivisi sebagai salah satu bentuk budaya massa manusia, untuk meluruskan ediologi kita tentang pemaknaan media telivisi sebagai 'ajaran sesat" atau "ajaran lurus' serta menguak berbagai sisi negatif dan positifnya.

Selamat Membaca!!!

Diterbitkan di: 31 Maret, 2009
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5

Menulis sendiri tulisanmu Komentar
Kutipan:

Budaya

Buat kutipan untuk Resensi ini
Related Videos

(HD) Cosmos (코스모스) -
Cosmos (코스모스) - EP6


Gunakan konten kami Terjemahkan Kirim Link Cetak
Share
Orang yang membaca Resensi ini juga membaca:

Setiap Wanita Cantik
Pride and Prejudice
Bahkan Malaikat pun Bertanya
A Walk to Remember
IN THE NAME OF HONOR, MUKHTAR MAI
Madhouse: The Story of a GeniusMurderer
The Pursuit of Excellence

Berikut
5 Teratas

Karena
Para
Buku
Waktu
Komunikasi

.

Sumber: http://id.shvoong.com/books/dictionary/1879629-komunikasi-massa-media-telivisi/#ixzz1OwFJe24w

Karakteristik dan Model Komunikasi Massa

Beberapa karakteristik komunikasi Massa :
Komunikasi Massa Bersifat Umum : Pesan Komunikasi yang disampaikan melalui media massa adalah terbuka bagi semua orang . Benda-benda yang tercetak , film , radio , dan televisi apabila digunakan untuk keperluan pribadi dalam lingkupan organisasi yang tertutup , tidak dapat dikatakan komunikasi Massa.
Komunikasi bersifat heterogen : Perpaduan antara jumlah komunikan komunikasi massa yang besar dengan keterbukaan dalam memperoleh pesan-pesan komunikasi , erat sekali hubungannya dengan sifat heterogin komunikan.Komunikan komunikasi massa adalah sejumlah orang yang disatukan oleh suatu minat yang sama yang mempunyai bentuk tingkah laku yang sama dan terbuka bagi pengaktifan terhadap tujuan yang sama.
Menimbulkan keserempakan : Yang dimaksud keserempakan adalah keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator , dan penduduk tersebut satu sama lainnya terpisah .
Hubungan komunikator-komunikan bersifat Non-Pribadi : Dalam komunikasi Massa ,hubungan antara komunikator dengan komunikan bersifat non-pribadi , karena komunikan yang anonim dicapai oleh orang-orang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator .

Model Komunikasi Massa :

Model Jarum hipodermik :
Secara harfiah “hipodermik” berarti “di bawah kulit.” Dalam hubungannya dengan komunikasi massa , istilah “model jarum suntik “ mengandung anggapan dasar , bahwa media-media menimbulkan efek yang kuat, terarah , segera , dan langsung terhadap massa komunikan.Efek yang segera dan langsung tersebut adalah sejalan dengan pengertian “perangsang-tanggapan”

Model Komunikasi dua tahap (two step flow) :
Konsep komunikasi dua tahap ini berasal dari Lazarsfeld , berelson , dan geudet (1948) yang berdasarkan penelitiannya menyatakan , bahwa ide-ide seringkali datang dari radio dan surat kabar yang ditangkap oleh pemimpin-pemimpin opini yang mengoperkan informasi , sedang tahap kedua adalah dari pemimpin opini kepada pengikut-pengikutnya,yang juga mencakup penyebaran pengaruh.

Model komunikasi satu tahap :
Menyatakan bahwa , saluran media massa berkomunikasi langsung dengan massa komunikan tanpa berlalunya suatu pesan melalui pemimpin opini ;tetapi pesan tersebut tidak mencapai semua komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama pada masing-masing komunikan

Model Komunikasi banyak tahap (multi-step flow model ) :
Model ini menggabungkan semua model yang telah dibicarakan terdahulu . Model banyak-tahap ini didasarkan kepada fungsi penyebaran yang berurutan yang terjadi pada kebanyakan situasi komunikasi.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2166850-karakteristik-dan-model-komunikasi-massa/#ixzz1OwEYP6AZ

Komunikasi Massa

Komunikasi dapat dipahami sebagai proses penyampaian pesan, ide, atau informasi kepada orang lain dengan menggunaka sarana tertentu guna mempengaruhi atau mengubah perilaku penerima pesan.

Komunikasi Massa adalah (ringkasan dari) komunikasi melalui media massa (communicating with media), atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi massa.

Massa sendiri artinya “orang banyak” atau “sekumpulan orang” –kelompok, kerumunan, publik.

Bittner: Mass communication is messages communicated throught a massa medium to a large number of people. Definisi Komunikasi Massa

William R. Rivers dkk. membedakan antara communication dan communications. Communication adalah proses berkomunikasi. Communications adalah perangkat teknis yang digunakan dalam proses komunikasi, e.g. genderang, asap, butir batu, telegram, telepon, materi cetak, siaran, dan film.

Edward Sapir: Communication = proses primer, terdiri dari bahasa, gestur/nonverbal, peniruan perilaku, dan pola perilaku sosial. Communications = teknik-teknik sekunder, instrumen dan sistem yang mendukung proses komunikasi, e.g. kode morse, telegram, terompet, kertas, pulpen, alat cetak, film, pemancar siara radio/TV.

William R. Rivers dkk.:
Komunikasi Massa dapat diartikan dalam dua cara:
1. Komunikasi oleh media.
2. Komunikasi untuk massa.
Namun, Komunikasi Massa tidak berarti komunikasi untuk setiap orang. Pasalnya, media cenderung memilih khalayak; demikian pula, khalayak pun memilih-milih media.

Karakteristik Komunikasi Massa
William R. Rivers dkk.:
1. Satu arah.
1. Selalu ada proses seleksi –media memilih khalayak.
2. Menjangkau khalayak luas.
3. Membidik sasaran tertentu, segmentasi.
4. Dilakukan oleh institusi sosial (lembaga media/pers); media dan masyarakat saling memberi pengaruh/interaksi.

McQuail menyebut ciri utama komunikasi massa dari segi:
1. Sumber : bukan satu orang, tapi organisasi formal, “sender”-nya seringkali merupakan komunikator profesional.
2. Pesan : beragam, dapat diperkirakan, dan diproses, distandarisasi, dan selalu diperbanyak; merupakan produk dan komoditi yang bernilai tukar.
3. Hubungan pengirim-penerima bersifat satu arah, impersonal, bahkan mungkin selali sering bersifat non-moral dan kalkulatif.
4. Penerima merupakan bagian dari khalayak luas.
5. Mencakup kontak secara serentak antara satu pengirim dengan banyak penerima.

Denis McQuail tentang Media:
1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain.
2. Sumber kekuatan –alat kontrol, manajemen, dan inovasi masyarakat.
3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
4. Wahana pengembangan kebudayaan –tatacara, mode, gaya hidup, dan norma.
5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.

Lengkapnya, Karakteristik Komunikasi Massa menurut para pakar komunikasi :
1. Komunikator Melembaga (Institutionalized Communicator) atau Komunikator Kolektif (Collective Communicator) karena media massa adalah lembaga sosial, bukan orang per orang.
2. Pesan bersifat umum, universal, dan ditujukan kepada orang banyak.
3. Menimbulkan keserempakan (simultaneous) dan keserentakan (instantaneos) penerimaan oleh massa.
4. Komunikan bersifat anonim dan heterogen, tidak saling kenal dan terdiri dari pribadi-pribadi dengan berbagai karakter, beragam latar belakang sosial, budaya, agama, usia, dan pendidikan.
5. Berlangsung satu arah (one way traffic communication).
6. Umpan Balik Tertunda (Delayed Feedback) atau Tidak Langsung (Indirect Feedback); respon audience atau pembaca tidak langsung diketahui seperti pada komunikasi antarpribadi.

Karakteristik Media Massa:
1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang banyak.
2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak (masyarakat umum).
3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan priode mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.

Referensi: Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 1987; William R. Rivers at.al., Media Massa dan Masyarakat Modern: Edisi Kedua, Prenada Media, Jakarta, 2003; Winarni, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, UMM Press, 2003. (www.romeltea.com).*

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1877099-definisi-komunikasi-massa/#ixzz1OwE1x7F8

Teori-Teori Komunikasi

1. Teori Model Lasswell

Salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal adalah Harold Lasswell, dalam artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect) (Littlejhon, 1996).


2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi

Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.

3. Teori Informasi atau Matematis

Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of Communication.
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.
Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.

Penjelasan Teori Informasi Secara Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi

Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.


4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.
Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.


Riset Eksperimen
Riset eksperimen (experimental research) merupakan pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.
Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.
Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya.
Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).

Survey
Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.

Riset Ethnografi
Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian.



6. Teori Agenda Setting

Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.

7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, diamana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.

2. Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
3. Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan.


8. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1) Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan (2) berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan (3) struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran personal individu, dan (5) persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan (6) berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan (7) perbedaan pola konsumsi media dan ( perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan (9) perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi (10) kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula (11) struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.


9. Teori The Spiral of Silence

Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.


10. Teori Konstruksi sosial media massa

Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge. Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.


11. Teori Difusi Inovasi

Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (atau komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar. Kontak mungkin terjadi secara spontan atau dari ketidaksengajaan, atau hasil dari rencana bagian dari agen-agen luar dalam waktu yang bervariasi, bisa pendek, namun seringkali memakan waktu lama.
Dalam difusi inovasi ini, satu ide mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat tersebar. Rogers menyatakan bahwa pada realisasinya, satu tujuan dari penelitian difusi adalah untuk menemukan sarana guna memperpendek keterlambatan ini. Setelah terselenggara, suatu inovasi akan mempunyai konsekuensi konsekuensi – mungkin mereka berfungsi atau tidak, langsung atau tidak langsung, nyata atau laten (Rogers dalam Littlejohn, 1996 : 336).

12. Teori Kultivasi


Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Televisi mengolah dari awal kelahiran predisposisi yang sama dan pilihan yang biasa diperoleh dari sumber primer lainnya. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi. Televisi telah menjadi sumber umum utama dari sosialisasi dan informasi sehari-hari (kebanyakan dalam bentuk hiburan) dari populasi heterogen yang lainnya. Pola berulang dari pesan-pesan dan kesan yang diproduksi massal dari televisi membentuk arus utama dari lingkungan simbolis umum.

Garbner menamakan proses ini sebagai cultivation (kultivasi), karena televisi dipercaya dapat berperan sebagai agen penghomogen dalam kebudayaan. Teori kultivasi sangat menonjol dalam kajian mengenai dampak media televisi terhadap khalayak. Bagi Gerbner, dibandingkan media massa yang lain, televisi telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya (McQuail, 1996 : 254)


Referensi :

* Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

* Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

* Buku, jurnal, dan sumber dari internet yang relevan.

Komunikasi

A. Akar Kata Komunikasi
Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya “communis” adalah “communico” yang artinya berbagi (Stuart,1983, dalam Vardiansyah, 2004 : 3). Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti " membuat sama" (to make common). Istilah “communis” adalah istilah yang paling sering di sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata kata Latin yang mirip Komuniksi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan di anut secara sama. Dalam hal ini, yang dibagi adalah pemahaman bersama melalui pertukaran pesan. Komunikasi sebagai kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris, “communicate”, berarti (1) untuk bertukar pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan informasi; (2) untuk membuat tahu; (3) untuk membuat sama; dan (4) untuk mempunyai sebuah hubungan yang simpatik. Sedangkan dalam kata benda (noun), “communication”, berarti : (1) pertukaran simbol, pesan-pesan yang sama, dan informasi; (2) proses pertukaran diantara individu-individu melalui simbol-simbol yang sama; (3) seni untuk mengekspresikan gagasan-gagasan, dan (4) ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi (Stuart, 1983, dalam Vardiansyah, 2004).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi berasal dari akar kata yang maknanya selalu (1) melibatkan pertukaran simbol atau tanda baik verbal maupun nonverbal, (2) terbangunnya relasi kebersamaan antara komunikator dengan komunikan. Simbol atau tanda verbal seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan. Sementara simbol atau tanda nonverbal seperti mimic, gerak-gerik serta suara. Terbangunnya relasi kebersamaan ini bukan selalu sebagai hubungan yang positif seperti keakraban atau keintiman melainkan terbentuknya kontak hubungan antara pengirim pesan dengan penerima pesan melalui simbol atau tanda-tanda tertentu yang bersifat verbal atau nonverbal. Aplikasi kontak simbol ini baik dilakukan dengan diri sendiri (intrapersonal) maupun dengan pihak lain (antarpersonal).


B. Definisi Komunikasi
Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia dan masyarakat. Aktivitas komunikasi dapat dilihat pada setiap aspek kehidupan sehari-hari manusia yaitu sejak dari bangun tidur sampai manusia beranjak tidur pada malam hari. Bisa dipastikan sebagian besar dari kegiatan kehidupan kita mengunakan komunikasi baik komunikasi verbal maupun nonverbal. Namun, apa yang dimaksud dengan komunikasi itu sendiri ?
Pawito dan C Sardjono (1994 : 12) mencoba mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan atau dioperkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku overt lainnya. Sekurang-kurangnya didapati empat unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver).
Wilbur Schramm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process). Schramm menguraikannya sebagai berikut :
“Komunikasi berasal dari kata-kata (bahasa) Latin communis yang berarti umum (common) atau bersama. Apabila kita berkomunikasi, sebenarnya kita sedang berusaha menumbuhkan suatu kebersamaan (commonnes) dengan seseorang. Yaitu kita berusaha berbagai informasi, ide atau sikap. Seperti dalam uraian ini, misalnya saya sedang berusaha berkomunikasi dengan para pembaca untuk menyampaikan ide bahwa hakikat sebuah komunikasi sebenarnya adalah usaha membuat penerima atau pemberi komunikasi memiliki pengertian (pemahaman) yang sama terhadap pesan tertentu” (Suprapto, 2006 : 2-3).

Dari uraian tersebut, definisi komunikasi menurut Schramm tampak lebih cenderung mengarah pada sejauhmana keefektifan proses berbagi antarpelaku komunikasi. Schramm melihat sebuah komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berhasil melahirkan kebersamaan (commonness), kesepahaman antara sumber (source) dengan penerima (audience)-nya. Menurutnya, sebuah komunikasi akan benar-benar efektif apabila audience menerima pesan, pengertian dan lain-lain persis sama seperti apa yang dikehendaki oleh penyampai.
Pakar komunikasi lain, Joseph A Devito mengemukakan komunikasi sebagai transaksi. Transaksi yang dimaksudkannya bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan. Dalam setiap proses transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan elemen lain (Suprapto, 2006 : 5).
Sebagai proses, kata Smith, komunikasi sekaligus bersifat khas dan umum, sempit dan luas dalam ruang lingkupnya. Dirinya menguraikan :
“Komunikasi antarmanusia merupakan suatu rangkaian proses yang halus dan sederhana. Selalu dipenuhi dengan berbagai unsur-sinyal, sandi, arti tak peduli bagaimana sederhananya sebuah pesan atau kegiatan itu. Komunikasi antarmanusia juga merupakan rangkaian proses yang beraneka ragam. Ia dapat menggunakan beratus-ratus alat yang berbeda, baik kata maupun isyarat ataupun kartu berlubang baik berupa percakapan pribadi maupun melalui media massa dengan audience di seluruh dunia…ketika manusia berinteraksi saat itulah mereka berkomunikasi…saat orang mengawasi orang lain, mereka melakukan melalui komunikasi” (Blake dan Haroldsen, 2003 : 2-3).

Sedangkan, Larry A Samovar, Richard E Porter dan Nemi C Janin dalam bukunya Understanding Intercultural Communication mendefinisikan komunikasi sebagai berikut :
“Communication is defined as a two way on going, berhaviour affecting process in which one person (a source) intentionally encodes and transmits a message throught a channel to an intended audience (receiver) in order to induce a particular attitude or behaviour” (Purwasito, 2003 : 198).
Dance dan Larson (dalam Vardiansyah, 2004 : 9) setidaknya telah mengumpulkan 126 definisi komunikasi yang berlainan. Namun, Dance dan Larson mengidentifikasi hanya ada tiga dimensi konseptual penting yang mendasari perbedaan dari ke-126 definisi temuannya itu, antara lain :
1. Tingkat observasi atau derajat keabstrakannya. (a) Definisi bersifat umum, misalnya definisi yang menyatakan komunikasi adalah proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan. (b) Definisi bersifat khusus, misalnya definisi yang menyatakan bahwa komunikasi adalah alat untuk mengirimkan pesan militer, perintah dan sebagainya melalui telepon, telegraf, radio, kurir dan sebagainya.
2. Tingkat kesengajaan. (a) Definisi yang mensyaratkan kesengajaan, misalnya definisi yang menyatakan bahwa komunikasi adalah situasi-situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu pesan kepada seorang penerima dengan disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima. (b) Definisi yang mengabaikan kesengajaan, misalnya dari Gode (1959) yang menyatakan komunikasi sebagai proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang atau monopoli seseorang menjadi dimiliki dua orang atau lebih.
3. Tingkat keberhasilan dan diterimanya pesan. (a) Definisi yang menekankan keberhasilan dan diterimanya pesan, misalnya definisi yang menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi untuk mendapatkan saling pengertian. (b) Definisi yang tidak menekankan keberhasilan dan tidak diterimanya pesan, misalnya definisi yang menyatakan komunikasi adalah proses transmisi informasi.

Dari berbagai definisi komunikasi yang ada, Sasa Djuarsa Sendjaja dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi mencoba menjabarkan tujuh definisi yang dapat mewakili sudut pandang dan konteks pengertian komunikasi. Definisi-definisi tersebut antara lain :
1. Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Definisi ini seperti yang dikemukakan Hovland, Janis & Kelley (1953).
2. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain. Komunikasi ini seperti yang dikemukakan Berelson dan Stainer (1964).
3. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?). Definisi seperti yang dikemukakan Lasswell (1960).
4. Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih. Definisi ini seperti yang dikemukakan Gode (1959).
5. Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego. Definisi ini seperti dikemukakan Barnlund (1964).
6. Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan. Definisi ini seperti yang disampaikan Ruesch (1957).
7. Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya. Definisi ini seperti yang dikemukakan Weaver (1949) (Zubair, 2006).

Sementara Riswandi menyimpulkan beberapa karakteristik komunikasi berdasar berbagai definisi yang dikemukakan para ahli, antara lain :
1. Komunikasi adalah suatu proses, artinya komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.
2. Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.
3. Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang sama terhadap topik pesan yang disampaikan.
4. Komunikasi bersifat simbolis karena dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
5. Komunikasi bersifat transaksional. Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.
6. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya bahwa para pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi. (Riswandi, 2006).

Jika dilihat sekilas dari ulasan di atas, kiranya dapat ditarik benang merah bahwa tiap ahli bisa memiliki pandangan beragam dalam mendefinisikan komunikasi. Komunikasi terlihat sebagai kata yang abstrak sehingga memiliki banyak arti. Kenyataannya untuk menetapkan satu definisi tunggal terbukti sulit dan tidak mungkin terutama jika melihat pada berbagai ide yang dibawa dalam istilah itu.
Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner sehingga definisi komunikasi pun menjadi banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya berbagai definisi komunikasi yang ada sesungguhnya saling melengkapi dan menyempurnakan sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA


Buku :
Blake, Reed H., and Haroldsen, Edwin O. Taksonomi Konsep Komunikasi. Cetakan Ke-1. Terj. Hasan Bahanan. Surabaya: Papyrus, 2003.

Pawito, dan C Sardjono. Teori-Teori Komunikasi. Buku Pegangan Kuliah Fisipol Komunikasi Massa S1 Semester IV. Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 1994.

Purwasito, Andrik. Komunikasi Multikultural. Cetakan Ke-1. Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2003.

Suprapto, Tommy. Pengantar Teori Komunikasi. Cetakan Ke-1. Yogyakarta: Media Pressindo, 2006.

Vardiansyah, Dani. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Ke-1. Bogor: Ghalia Indonesia, 2004.


Internet :

Zubair, Agustina. “Definisi Komunikasi.” WordPress.com 17 Oktober 2006. 10 Juni 2010. .

Riswandi. “Definisi Komunikasi dan Tingkatan Proses Komunikasi.” WordPress.com 17 Oktober 2006. 10 Juni 2010. .

“Definisi Komunikasi.” Blogdetik.com. 11 Juni 2010.

4/14/11

Peranan Publik Relation

Menurut Dozier (1992), peranan praktisi PR dalam organisasi merupakan salah stau kunci penting untuk memahami fungsi public relations dan komunikasi organisasi. Peranan praktisi public relations juga merupakan salah satu kunci untuk mengembangan pencapaian profesional dari praktisi public relations.
Public Relations Manager
Communication Manager Role
1.Expert Prescriber : Praktisi PR membantu manajemen dengan pengalaman dan keterampilan mereka untuk mencari solusi bagi penyelesaian masalah public relationship yang dihadapi oleh organisasi.
2.Communication Facilitator : Praktisi PR membantu manajemen dengan menciptakan kesempatan-kesempatan ‘mendengar’ apa kata public dan menciptakan peluang agar public mendengar apa yang diharapkan manajemen.
3.Problem –Solving Process Facilitator : Praktisi PR membantu kerja manajemen melalui kerja sama dengan bagian lain dalam organisasi untuk menemukan pemecahan masalah yang memuaskan bagi masalah public relations

Communication Technican Role
Public Relations Technican

1.Communication Technican : Menyediakan layanan teknis komunikasi untuk organisasi sedangkan keputusan untuk teknis komunikasi yang harus dijalankan ditentukan oleh orang atau bagian lain dalam organisasi.Perbedaan mendasar kedua peranan ini adalah pada kegiatan praktisi public relations mengambil keputusan di tingkat korporat. Para Teknisi tidak berpartispasi dalam pengambilan keputusan manajemen, sedangkan manager terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Dozier (1995) : Praktisi yang ingin menjalankan peran manajer humas membutuhkan pengetahuan dasar untuk menjalankan peran itu. Pengetahuan tersebut dari :
•Pengetahuan Strategis, berkaitan dengan kemampuan untuk mengetahui bagaimana mengelola kegiatan komunikasi secara strategis dan juga kemampuan untuk mengelola respon organisasi terhadap berbagai masalah dan kemampuan pengembangan sasaran dan tujuan untuk bagian humas.
•Pengetahuan Riset, berkaitan dengan kemampuan melakukan penelitian untuk segmentasi publik dan riset untuk evaluasi program.
•Pengetahuan dalam menyusun anggaran untuk kegiatan public relations.
Wrote By : Lafif Thoyibie

Strategi PR dalam Kontek Sumber Daya Manusia ( Sebuah Studi Kasus)

Strategi komunikasi di Railtrack menjadi fokus setelah perusahaan ini diprivatisasi pada tahun 1997. Di perlukan revisi-revisi yang utama untuk memastikan keberhasilan perubahan jangka panjang dan jangka pendek oleh manajemen dan karyawan pada setiap tingkat. Poin-poin kunci
• Strategi komunikasi menunjukkan signifikasi dari public relations dalam proses perubahan
• Strategi komunikasi mencerminkan pentingnya scanning internal untuk mengidentifikasi audiens kunci, sub audiens dan peralatan yang diperlukan untuk memastikan bahwa sebuah pendekatan yang koheren dan terintegrasi tetap dipertahankan.
• Strategi komunikasi menunjukkan bagaimana strategi public relations merupakan komponen inti dari strategi korporsi.
RAILTRACK PLC
Permasalahan
Pada pertengahan tahun 1997, Railtrack plc, perusahaan infrastruktur kereta api di Inggris, berdiri berdasarkan peristiwa yang terjadi di London Stock Market. Ketika perusahaan ini terus menyesuaikan diri dengan hubungan bisnis pasca privatisasi dalam sebuah lingkungan publik yang bersemangat, regulatory, dan pengamatan politis yang cermat, perhatian Railtrack plc terfokus pada peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen yang semakin vokal. Selain itu, tantangan yang dihadapi ketika memastikan kesehatan ekonomi setelah review atas regulatory yang akan datang pada bulan april 2001 merupakan prioritas yang membayangi.
Pada tahun 1997, Railtrack menyatakan kepada publik sebuah komitmen untuk menginvestasikan 17 miliar (naik menjadi 27 miliar pada tahun 1999), yang didanai melalui pinjaman, guna memperbaiki infrastruktur rel kereta api selama 10 tahun mendatang. Untuk setiap 10 juta yang di galang, 1 juta dari laba yang diperoleh harus dipergunakan untuk mengamankan pinjaman. Oleh karena itu, secara internal hal yang paling mendesak adalah berfikir secara komersial, bukan hanya sekedar beroperasi. Belum pernah terjadi sebelumnya karyawan menganggap hal itu sebagi dasar ekonomi dari bisnis komersial, serta membuat keputusan harian dan keputusan jangka panjang berdasarkan sikap tersebut.
Penelitian
Untuk membantu tim korporasi, Railtrack memperkerjakan Hedron Consulting Ltd, spesialis komuniksi internal. Konsultan ini memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman dari perusahaan dan industri lain, baik di Inggris maupun di luar Inggris yang dapat di pelajari oleh Railtrack. Pihak Hedron bekerja dengan tim komunikasi internal yang sudah ada (berjumlah tujuh orang yang tersebar di tujuh zona di inggris – beberapa di antaranya pekerja paruh waktu) untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi internal korporasi yang difokuskan secara komersial. Selain itu, Hedron juga harus memperkuat tim internal kantor pusat, yang akan menjadi ujung tombak penerapan komunikasi internal. Dasar pemikiran awalnya adalah dari pengalaman organisasi lain, yang organisasi akan memandang komunikasi internal sebagai bagian kunci dari proses manajemen yang dapat mendorong atau merongrong tujuan komersial bisnis dan bukan memandang sebagai aktivitas yang ‘terasa enak untuk di lakukan’ atau ‘baik untuk di lakukan’.
Untuk melaksanakan pendekatan ini, tim harus mengidentifkasi tujuan bisnis kunci dan mempelajari bagaimana tujuan tersebut terkait dengan perilaku orang dalam keseharian. Tim mengidentifikasi dengan menganalisis bisnis inti dan rencana-rencana operasional serta laporan (beberapa di antaranya untuk publik, termasuk Network Management Statement dan indeks kepuasan konsumen Train Operating Company yang dipubliksikan secara tahunan) dan dengan mewawancarai anggota-anggota kunci dewan. Dokumentasi rencana bisnis internal yang sangat sensitif menentukan tujuan bisnis inti yang harus didukung oleh komunikasi internal dan hal ini disetujui oleh tim peneliti serta manajemen puncak.
Kegagalan komunikasi antara apa yang diperlukan dan apa yang ada akan muncul ketika jalannya praktik komunikasi yang ‘bagus’ mulai diukur. Keefektifan dinilai dari peran yang dapat dimainkan komunikasi dalam mendukung pencapaian tujuan bisnis dengan memastikan bahwa keefektifan tersebut diketahui dan setelah itu dipahami. Data yang dianalisis termasuk dua survei perilaku karyawan, audit komunikasi internal, dan diskusi dengan HR senior serta para manajer lini dan karyawan yang berada di garis depan.
Perencanaan
Tujuan IC dinyatakan sebagai berikut:
1. Memastikan bahwa semua staf memahami prioritas tujuan bisnis dan pendorongnya, serta relevansi dari prioritas tersebut bagi keberhasilan perusahaan di masa mendatang.
2. Membantu karyawan memahami tujuan bisnis, dan memastikan bahwa karyawan mengerti peran dan kontribusi mereka terhadap pencapaian tujuan tersebut.
3. Mendorong / memastikan bahwa para manajer dan staf sering menyelenggarakan dialog tentang kinerja: potensi pengembang, hambatan – hambatan, sumber daya, dan proses.
4. Memberikan proses dan pelatihan sehingga informasi dapat diakses secara lebih mudah dan ditransfer secara lebih cepat ke setiap bagian organisasi untuk mendukung praktik kerja yang efisien.
Strateginya adalah memodernisasi pendekatan komunikasi internal dasar di seluruh bagian perusahaan sehingga dialog tentang bisnis sangat ditekankan. Isi dari komunikasi harus diseimbangkan kembali untuk memberikan “share of vaice” yang lebih besar atas informasi strategis, operasional, dan mendidik mengenai bisnis atau perusahaan.
Konsep “hak” dan “tanggung jawab” manajemen komunikasi akan diperkenalkan untuk mengubah cara memandang komunikasi, membicarakan tentang dan menggunakan orang dalam perusahaan. Hal ini sangat mendasar untuk mengembangkan kultur atau budaya dimana tidak lagi dapat dibenarkan bila karyawan tidak diberitahu atau dianggap tidak perlu mengetahui prioritas komersial bisnis.
Faktor-faktor keberhasilan yang penting harus diidentifikasi. Faktor yang paling menantang adalah memastikan bahwa manajer senior menempatkan nilai-nilai komunikasi internal setingkat dengan nilai-nilai komunikasi eksternal. Para manajer senior itu memandang komunikasi internal sebagai cara untuk memberikan informasi kepada para staf mengenai proses manajemen serta memungkinkan staf mampu membuat penilaian secara komersial.
Penerapan / Implementasi
Pada akhir Oktober 1997, Gerald Corbett, direktur utama, mengumumkan tujuh tindakan inti dengan anggaran sebesar £730.000. Jika, tindakan-tindakan tersebut dikombinasikan akan tercipta sebuah kerangka kerja baru bagi komunikasi, yang memperkenalkan tujuan komunikasi strategis dan reposisi komunikasi internal di Railtrack.
Tindakan Pertama
Pertama, kandidat eksternal Ken Hunter ditunjuk sebagai Kepala Komunikasi Internal untuk mempimpin HQ dan tim setiap cabang serta ujung tombak transformasi. Hal ini penting untuk meningkatkan profil komunikasi sebagai alat memotivasi karyawan dan memperbaiki kinerja.
Tindakan pertama adalah untuk memastikan bahwa informasi dapat mencapai seluruh karyawan (dulunya hanya 65 persen), selama 24 jam kerja dan bukan dua minggu. Kelambanan transfer informasi ini hanya akan melumpuhkan kemampuan organisasi untuk menghadapi isu-isu penting dan berkomunikasi secara cepat dengan karyawan menyangkut hubungan industrial. Dengan menyediakan teknologi dasar tambahan ( telepon/fax) pencapaian naik hampir mendekati 95 persen -staf yang sedang bertugas memiliki akses ke informasi dalam waktu empat jam setelah tindakan diluncurkan. Hasil yang dicapai sangat signifikan. Dewan mengakui kontribusi yang sangat penting dari ‘tindakan’ pertama dalam mencegah seruan mogok RTM, yang berhasil diterapkan di perusahaan kereta api lainnya. Dewan mampu memberikan informasi kepada karyawan dengan cepat sebelum materi serikat kerja dikeluarkan. Tindakan pertama mampu menjelaskan mengapa tuntutan RTM tak dapat dipertahankan. Para karyawan memahami alasannya dan memilih untuk tidak mogok.
Tindakan Kedua
Tindakan kedua secara signifikan meningkatkan kesempaan bagi para staf untuk melakukan dialog mengenai bisnis dengan para manajer senior. Sebuah program yang radikal dari railshows regional yang dicetuskan oleh CEO dan direktur wilayah menilhat 25 persen staf dari semua tingkat membicarakan arah strategis dari bisnis dan bagaimana hal tersebut terkait dengan tugas sehari-hari mereka. Hal sangat pasti:
• 91 persen merasa bahwa mereka dapat menghubungkan tujuan mereka dengan tujuan wilayah dan perusahaan mereka
• 84 persen mengatakan bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mereka dapat membantu tugas wilayah.
• 85 persen merasa yakin atas masa depan Railtrack
Mereka yang tidak hadir menerima informasi inti dan poin-poin diskusi melalui media baru.
Tindakan Ketiga
Tindakan ketiga melaksanakan peninjauan kembali yang fundamental terhadap media internal dan menciptakan kerangka kerja media yang memungkinkan karyawan berbagi ilmu dan praktik terbaik, serta memberikan pengetahuan dan konteks untuk memahami mengapa dan bagaimana keputusan dibuat. Kerangka kerja media ini telah menelurkan hasil yang substansial melalui volume dan kualitas dari sesi saling berbagi keberhasilan dan ide-ide penghematan biaya yang telah mereka lakukan. Satu artikel saja menghasilkan £100.000, dengan menekankan pada tim European Affairs sebuah proyek yang layak didanai. Tanpa publikasi hal ini pasti sudah terlewat.
Tindakan Keempat
Tindakan keempat merevisi proses briefing tim untuk mendorong dialog mengenai bisnis pada tingkat tim. Untuk mengatasi kelemahan hierarkhis dan kultural dari proses briefing tim yang ada, sebuah pendekatan yang radikal telah ditempuh. Temtalk dimulai, diubah dan digulirkan ke seluruh negeri. Ditulis dalam prosa oleh CEO atau direktur wilayah yang bersangkutan, teamtalk hanya memfokuskan pada informasi bisnis strategis. Teamtalk melengkapi, tindak menggantikan , briefing lini spesifik. Teamtalk mengunjungi semua karyawan dalam sebuah zona pada saat yang sama, yaitu sebelum pertemuan tim saat arti teamtalk pada tingkat lokal didiskusikan. Teamtalk dapat berdiri sendiri bagi anggota staf yang terisolasi. Pertanyaan-pertanyaan akan diajukan pada karyawan yang dapat mereka jawab secara pribadi maupun secara kelompok. Sejauh ini, umpan balik dan kelompok-kelompok fokus telah menunjukkan bahwa teamtalk diterima dengan baik dan mendorong dialog tentang bisnis. Akan tetapi, para manajer senior belum merespons dengan cukup cepat sehingga melemahkan semangat para karyawan. Para manajer senior telah dikritik karena tidak cukup kontroversial dan menolak untuk mengakui kesalahan. Mereka telah ditantang oleh tim komunikasi internal untuk menangani kritik tersebut.
Tindakan Kelima, Keenam dan Ketujuh
Ketiga tindakan inti lainnya adalah untuk merevisi pertemuan komunikasi manajemen senior, sehingga pertemuan itu menjadi model perilaku komunikasi yang baru dalam organisasi, untuk memperkenalkan sebuah intranet yang memungkinkan karyawan menarik informasi, dan untuk mengembangkan kemampuan tim komunikasi internal dalam menjalankan strategi yang menantang ini, dengan semua keterampilan komunikasi non-tradisional yang dituntut strategi ini. Pengembangan kemampuan tim komunikasi internal untuk menjalankan strategi telah menghasilkan pertumbuhan nilai bahwa komunikator internal semakin banyak diminta untuk ikut serta dalam diskusi inisiatif manajemen kunci guna memberikan nasihat tentang bagaimana komuniaksi dapat membantu.
Evaluasi
Dalam keseluruhan program, evaluasi dilakukan terhadap perkembangan aktivitas komunikasi internal. Hal ini telah memungkinkan pembelajaran dari keefektifan awal untuk mendorong perubahan pendekatan dan pelaksanaannya. Bagian terdahulu merinci bagaimana masing-masing tindakan telah mencapai tujuannya dan memberikan kontribusi pada keseluruhan tujuan komunikasi internal yang strategis. Selain itu, penelitian atau riset yang independen atas manajer senior kunci dan dewan menunjukkan bahwa mereka sekarang melihat tim komunikasi internal memiliki nilai yang signifikan bagi organisasi
Indikasi sejauh ini melalui kelompok fokus yang mengembangkan penelitian berbasis kuesioner, terlihat bahwa ada kemajuan yang berarti dalam mencapai tujuan, Jelasnya, penelitian akan memungkinkan dilakukan penilaian apakah hanya kebetulan bahwa wilayah yang memiliki tingkat kehadiran staf 50 persen di Railshows, yang mendorong banyak tindakan lain dan yang membuat manajer IC nampak seperti penasihat Eksekutif yang terfokus secara komersial, juga merupakan zona denga kinerja terbaik. Namun tim kantong-kantong yang belum cukup dipengaruhi. tim sedang berusaha mengembangkan sebuah strategi dan rencana tindakan selama tahun 2001 dan menekliti bisnis tentang hal-hal yang harus didukung (secara fundamental memikirkan kembali strategi). Tim juga memperkuat hubunganya dengan tim HR yang diubah penampilannya dan yang diperbaharui secara substansial untuk memastikan konsistensi pesan dengan manajemen orang dan proses pengembang
Gerald Corbett mengatakan: Sebagai eksekutif utama saya memerlukan orang-orang dari semua tingkat untuk memahami kemana kita menuju dan mengapa. Jadi sangat penting jika mereka harus mampu memberikan kontribusi yang efektif pada cara kita mengelola bisnis. Komunikasi internal kita sekarang terfokus pada isu-isu bisnis dan sedang mengembangkan sebuah dialog ke atas, ke bawah, dan ke seluruh bagian perusahaan yang sangat penting.
Daftar Pustaka:
Strategi Public Relations, Sandra oliver, Hal 69 – 74

Strategi Publik Relations

2.1 Tinjauan Tentang Public Relations
2.1.1 Definisi Public Relations
Dalam buku Human Relations dan Public Relations Onong Uchjana Effendy mengutip dari perkataan Cultip dan Certer dalam bukunya yang sama Human Relations dan Public Relations mengatakan : “Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seorang organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan kegiatan untuk menarik perhatian dan dukungan publik lain dengan pendapat dari Rosandy Ruslan dalam bukunya kampanye Public Relations (hal 4 2002) yan menkutip dari John E. Marston dalam bukunya (Modern PR New York : MC Graw – Hill 197) mengatakan “Public Relations sama dengan bidang periklanan (Advertising), atau bidang komunikasi lainya yang bukan merupakan ilmu tradisional yang hanya digunakan untuk tujuan terbatas sesaat. Public Relations merupakan fungsi manajemen untuk mencapai target tertentu yang sebelumnya harus memiliki program tertentu kerja yang jelas dan rinci, mencari fakta, merencanakan, mengkomunikasikan, hingga mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapainya.
Lain lagi yang dikatakan oleh Neni Yulianita mengutip :
1. Definisi Public Relations dari Public Relations News
Public Relations is the managemen function which evaluates public attitudes identifies the policies and procedures of an individual or an organization with the public interest and executes a program of action to earn public understanding and acceptance.

Dengan demikian dalam Public Relations News, yakni suatu bulletin Public Relations didiefinisikan bahwa :
Public relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, menyatakan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan publik, dan melaksanakan program kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publiknya.

Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya Public Relations menekankan pada “fungsi manajemen”. Hal ini menunjukkan bahwa Public Relations sangat erat kaitannya dengan manajemen, dimana ia mempunyai fungsi yang melekat dengan kegiatan manajemen, dalam arti jika ada suatu sistem manajemen sudah pasti di dalamnya terkandung kegiatan Public Relations yang memfungsikan manajemen tersebut. Hal ini memberikan kensekuensi bahwa Public Relations merupakan hal harus terlembaga atau institusional.
Sebagai fungsi manajemen, Public Relations berarti mempunyai kontribusi yang sangat penting untuk membantu lancarnya kegiatan manajemen khususnya dalam membantu hal-hal yang berkaitan dengan upaya untuk menilai sikap publik terhadap organisasinya.
2. Definisi Public Relations dari Howard Bonham
Public Relations is the art of bringing about better public understanding which breeds greater public confidence for any individual or organization.
Dengan demikian Bonham mendefinisikan bahwa Public Relation adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik secara lebih baik, sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatyu organisasi/ badan.
Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya Public Relations menekankan pada “Seni”. Hal ini menunjukkan bahwa Public Relations sangat erat kaitannya dengan aspek seni. Yang dimaksud seni disini adalah seni dalam kaitannya dengan komunikasi, dimana seorang PRO harus mempunyai dan mampu menampilkan daya seni berkomunikasi yang baik sehingga penampilan seni ini selanjutnya akan dapat memberikan keuntungan bagi nama baik perusahaan sesuai dengan image positif dari publik terhadap organisasi tersebut.
3. Definisi Public Relations dari M. O Palapah & Atang Syamsudin
Public relations adalah suatu bentuk spesialisasi komunikasi yang bertujuan untuk memajukan saling mengerti dan bekerjasama antara semua publik yang berkepentingan guna mencapai keuntungan dan kepuasan bersama.
Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya public relations menekankan pada “Bentuk spesialisasi komunikasi”. Hal ini menunjukkan bahwa Public Relations adalah salah satu bentuk spesialisasi komunikasi dari dari sekian bentuk spesialisasi yang ada, yakni bentuk spesialisasi komunikasi persona, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Public Relations adalah termasuk pada bentuk spesialisasi komunikasi massa. Jika kita lihat mengapa Public Relations termasuk pada spesialisasi komunikasi massa karena pada prinsipnya, publik-publik yang berkepentingan terhadap organisasi/ badan/ perusahaan tertentu, yang tentu saja sebagai publik yang harus menjadi perhatian untuk dibina hubungan baiknya adalah tersebar di dalam masyarakat. Oleh karena itu beralasan jika Public Relations termasuk ke dalam salah satu bentuk spesialisasi komunikasi massa.
Hal yang menjadikan sesuatu yang khusus dari kegiatan Public Relations dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain adalah bahwa Public Relations mempunyai tujuan yang pada awalnya adalah untuk memajukan saling mengerti, bergerak pada saling percaya, saling mendukung, yang kemudian selanjutnya akan tercapai adanya saling kerjasama di antara semua publik yang berkepentingan.
4. Definisi Public Relations dari Betrand R. Canfield
Public Relations is philosophy and function of management expressed in policies and practices which serve the public interest, communicatedto the public to secure its under standing and goodwill.
Dengan demikiam Canfield mendefinisikan bahwa Public Relations adalah falsafah dan fungsi manajemen yang diekspresikan melalui kebijaksanaan dankegiatan-kegiatan untuk melayani kepentingan publik, melakukan kegiatan komunikasi bagi publiknya untuk menciptakan pengertian dan goodwill dari publiknya.
Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya Public Relations menekankan pada “falsafah manajemen”. Hal ini menunjukkan bahwa Public Relations adalah suatu yang harus dilakukan dalam bentuk hal-hal tidak menyimpang dari kebenaran, kejujuran, pelayanan yang baik bagi publik, mempunyai etika yang baik dalam melakukan kegiatan komunikasi bagi publiknya, dan merupakan upaya untuk menanamkan kepercayaan publik terhadap organisasi.
Semua hal yang telah digambarkan di atas harus dapat diekspresikan melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara institusional dan diarahkan bagi pelayanan kepentingan publik melalui pengkomunikasian yang baik bagi publiknya, semua itu tentu saja untuk menciptakan pengertian dan goodwill dari publik terhadap organisasi.
5. Definisi Public Relations dari The British Institute of Public Relations (IPR)
Public relations practice is the delibrate, planned and sustained effort to establish and maintain mutual understanding between anorganization.
Dengan demikian didefinisikan bahwa praktek Public Relations adalah keseluruhan upaya yang terencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan memelihara saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.
Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya public relations menekankan pada “suatu upaya yang terencana dan berkesinambungan”. Ini memberikan pemahaman bahwa kegiatan public relations adalah sesuatu yang terorganisasi dalam suatu program yang terpadu, dimana semuanya itu harus berlangsung dengan cara direncanakan terlebih dahulu. Selain itu juga pelaksanaan program diupayakan untuk dapat berlangsung berkesinambungan di antara satu program dengan program lainnya secara teratur dalam suatu manajemen tertentu.
Jadi public relation benar-benar merupakan kegiatan yang dilakukan dengan memberikan konsekuensi bagi suksesnya organisasi melalui program-program yang direncanakan terlebih dahulu.
Semua itu dilaksanakan dengan tujuan utamanya adalah untuk menciptakan dan memelihara saling pengertian. Ini menunjukkan bahwa kegiatan Public Relations prinsipnya adalah menekankan adanya niat baik dari organisasi terhadap publiknya, salah satunya adalah upaya untuk menciptakan pengertian publik terhadap organisasi demikian pula sebaliknya organisasipun menjadi kepentingan publiknya. Dari kondisi seperti ini diharapkan kedua belah pihak merasa puas karena keduanya mempunyai dasar saling pengertian tersebut. (Dr. Hj. Nani Yulianita, Dra., MS
6. Definisi Public Relations dari Frank Jefkins
Public Relations consist of all forms of planned communication, outwards and inwards, between an organization and its publics for the purposes of achieving specific objectives concerning mutual understanding.
Definisi tersebut mengemukakan bahwa Public Relations merupakan keseluruhan bentuk komunikasi yang terencana, baik itu keluar maupun ke dalam, yakni antara suatu organisasi dengan publiknya dalam rangka mencapai tujuan yang spesifik atas dasar adanya saling pengertian.
Dari definisi di atas dapat dilakukan suatu analisis bahwa pada prinsipnya public relations menekankan pada “suatu bentuk komunikasi”. Ini memberikan pemahaman bahwa kegiatan Public Relations adalah kegiatan komunikasi, dimana komunikasi ini tekanannya pada komunikasi organisasi yang sasaran komunikasinya adalah untuk publik di dalam organisasi dan publik diluar organisasi, dimana landasan utama dari aplikasi komunikasi organisasi ini adalah adanya saling pengertian diantara keseluruhan publik yang berkepentingan terhadap organisasi tersebut.
Atas dasar landasan adanya saling pengertian tersebut diharapkan selanjutnya adalah dapat mencapai tujuan yang spesifik, yakni dari kegiatan komunikasi public relations tersebut melangkah pada adanya image yang positif sehingga tercipta kerjasama yang harmonis diantara kedua belah pihak baik itu dari publik terhadap organisasi maupun dari organisasi terhadap publiknya sehingga dari hal ini diharapkan keberhasilan untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan dapat tercapai.
2.1.2 Fungsi Public Relations
Dalam buku kampanye PR oleh Rosandy Ruslan yang mengutip dari perkataan Uchjana Effendy, M. A dalam bukunya Humas suatu kromonologis (Remaja Rosdakarya 1992) sebagai berikut : terdapat 4 fungsi dari Public Relations
a. Sebagai communicator atau penghubung antara organisasi dengan lembaga yang mewakili dengan publiknya
b. Membina relationship, yaitu berupa membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya
c. Peranan back up management, yakni sebagi pendukung dalam fungsi manajemen organisasi atau perusahaan
d. Membentuk Coorporate Image, artinya fungsi peranan PR dalam lembaga berupaya dalam membentuk dan menciptakan citra bagi organisasi atau lembaganya.
Yang dimaksud dari 4 fungsi PR dapat adalah :
1. Bertindak sebagai Communicator, yaitu dalam sebuah kegiatan komunikasi dalam sebuah organisasi pada perusaan, prosesnya berlangsung dalam dua arah timbal balik (two way traffic reciprocal communication), dalam komunikasi ini fungsi PR adalah sebagai penyebaran informasi, di lain pihak komunikasi berlangsung dalam bentuk penyampaian pesan dalam menciptakan opini publik (Public Opinion).
2. Membangun dan membina hubungan (Relationship) yang positif yang baik dengan pihak publik sebagai target sasaran, yaitu publik internal dan publik eksternal khususnya dalam menciptakan saling mempercayai (mutually understanding) dan saling memperoleh manfaat bersama (muttulay symbiosis) antara lembaga/ organisasi perushaan dan publiknya.
3. Peranan back up management dan sebelumnya dijelaskan bahwa fungsi Public Relations melekat pada fungsi manajemen, berarti tidak dapat di pisakan dengan manajemen. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam fungsi manajemen tersebut melalui tahapan yang dikenal dengan POAC yaitu :
a. Planning (perancangan)
b. Organizing (pengorganisasian)
c. Actualiting (penggiatan)
d. Controlling (Pengawasan)
Dalam aktivitas atau pprasional, PR tersebut terkenal dengan penemuan fakta, perencanaan, pengkomunikasian, pemantauan, serta pengevaluasian, dalam perencanaan tersebut melihat sejauh mana perencanaan tersebut itu berjalan sesuai dengan yang dikehendaki, dikoordinasi dan mengkoordinasikan, serta bagaimana dalam pelaksanaannya, dan dalam pencapaiannya, serta apa hasil yang telah diperolehnya.
Menciptakan citra perusahaan atau lembaga (corporate image) yang merupakan tujuuan akhir dari suatu aktivitas program kerja PR untuk keperluan publikasi maupun untuk promosi. Peranan PR mencakup bidang yang luas menyangkut hubungan dengan berbagai pihak dan tidak hanya sekedar berbentuk relations arti sempit, karena personal relations mempunyai peranan yang cukup besar dalam cara kerja PR.
2.1.3 Tujuan Humas
Lain dengan pendapat Djaja dalam bukunya yang berjudul Hubungan Masyarakat ia mengatakan “Humas adalah fungsi manajemen dari sikap budi yang berencana dan bersinambungan yang dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang bersifat umum dan pribadinya berupaya membina pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang ada kaitannya atau yang mungkin ada hubungan dari nilai pendapat umum di antara mereka untuk mengkorelasikan, sedapat mungkin kebijaksanaan dan tata cara mereka dengan informasi yang berencana dan tersebar luas mencapai kerjasama yang lebih produktif pemenuhan kepentingan bersama yang lebih efisien” (DJAJA 1985 : 21) (Remaja Rosdakarya 1992).
Lain dengan pendapat yulianita mengatakan dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar PR memerikan penjelasan “Tujuan Humas adalah untuk menciptakan, memelihara, dan meningkatkan citra yang baik dari organisasi kepada publik yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi dari pada publik yang bersangkutan, Yulianti pun berkata dalam bukunya dasar-dasar PR, ada 4 hal prinsip dari tujuan PR yakni:
1. Menciptakan citra yang baik.
2. Memelihara citra yang baik
3. Meningkatkan citra yang baik
4. Memperbaiki citra jika citra organisasi kita menurun atau rusak.
(Yulianita Neni 2003 ; 42)
Yulianita pun mengutip perkataan dari Frank Jaffkins dalam bukunya Public Relations 1999:42) menurut Jafkins tujuan PR “adalah meningkatkan Vortable image/ citra yang buruk terhadap organisasi tersebut “
Dari pendapat di atas maka, dapat dirumuskan tentang tujuan dari Public Relations secara umum/ universal yang pada prinsipnya menekankan pada aspek citra merupakan salah satu tujuan yang penting bagi sebuah perusahaan, karena dengan memiliki nama yang baik, sebuah perusahaan akan dinilai bonafit. Dan seorang PR harus dapat memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai terpaan krisis pada perusahaan yang dinaunginya untuk tetap memiliki citra yang baik.
2.1.4 Kegiatan Public Relations
Dalam buku managemen PR kosep dan aplikasinya di Indonesia Kasali mengutip perkataan dari H. Fayol beberapa kegiatan dan sasaran PR, adalah :
a. Membangun Identitas dan Citra Perusahaan (Building Corporate Identity and Image)
• Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif.
• Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak.
Stimuls atau rangsangan yang di terima oleh panca indera dicerna sehingga akan membuat perubahan sikap, persepsi dan cara berfikir dari seseorang. sehingga akan memberikan respon yang positif jika stimulus yang diterima dapat di menggerti dengan jelas.
b. Mengahadapi krisis (FacingOf Crisis)
• Menghadapi krisis dan menangani keluhan (Complain) dan menghadapi krisis yang terjadi.
c. Mempromosikan aspek kemasyarakatan (Promotions Public Causes)
• Mempromosikan yang menyangkut dengan kepentingan publik.
• Mendukung kegiatan pemerintah.
Sedangkan menurut Renaldi Kasali dalam bukunya “Manajemen PR, Konsep & Aplikasinya di Indonesia” (1994 : 65) menjelaskan dalam PR terdapat bentuk-bentuk kegiatan PR, sebagai berikut :
1. Kegiatan Internal
Adalah kegiatan yang ditunjukkan untuk publik internal atau publik yang berhubungan dengan perusahaan atau instansi. Hubungan internal PR di antaranya :
a. Hubungan dengan pemegang saham
b. Hubungan dengan manager dan top executive
c. Hubungan dengan karyawan
d. Hubungan dengan keluarga karyawan
2. Kegiatan Eksternal
Kegiatan ini adalah kegiatan yang dilakukan pada publik umum/ masyarakat dalam bentuk opini publik tentang perusahaan atau instansi. Hubungan eksternal PR di antaranya adalah :
a. Hubangan dengan konsumen
b. Hubungan dengan bank
c. Hubungan dengan pemerintah
d. Hubungan dengan komunitas
Kegiatan PR adalah komunikasi dua arah timbal balik (Reciprocal two traffic Communication).
Hal tersebut terbukti bahwa, dalam rangka penyampaian informasi, baik yang diajukan kepada publik internal maupun pada publik eksternal, harus terjadi ahrus balik (Feedback). Ini berarti PR manager harus dapat mengetahui efek atau akibat efek yang ditimbulkan akibat dari penyampaian pesan atau informasinya itu, apakah ditanggapi oleh publik secara negatif.
Bentuk kegiatan PR (dalam membicarakan pengertian hubungan yang harmonis) mencakup pada arti :
1. PR harus dapat menciptakan kerjasama di antara publik yang mempunyai kepentingan.
2. PR harus dapat menciptakan tumbuhnya rasa kepuasan bersama diantara publik yang berkepentingan.

2.2 Tinjauan Tentang Strategi Public Relations
2.2.1 Definisi Strategi
Dalam buku dasar-dasar Public Relations 2003 Rosdakarya halaman 90 oleh Drs. Soleh Soemirat, M.S dan Drs Elvindro Adrianto, M.Si mengutip dari perkataan Kasali 1994:34 “Istilah strategi manajemen sering pula di sebut sebagai rencana strategi atau rencana jangka panjang perusahaan”.
Lebih jauh kasali menyebutkan rencana jangka panjang inilah yang menjadi pegangan bagi para praktisi PR untuk menyusun berbagai rencana teknis, dan langkah komunikasi yang akan di ambil sehari-hari. Untuk dapat bertindak secara strategis karena kegiatan PR harus menyatu dengan visi dan misi organisasi perusahaannya.
2.2.2 Langkah-langkah Dalam Menyusun Strategi
Dalam buku dasar-dasar Public Relations 2003 Rosdakarya halaman 90 oleh Drs. Soleh Soemirat M.S dan Drs. Elvindro Adrianto, M.Si mengutip dari perkataan Pearce dan Robinson mengatakan langkah-langkah dalam strategi managemen sebagai berikut :
1. Menentukan missions Perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah pernyataan yang umum mengenai maksud pendirian (purpose), filosofi, dan sasaran
2. Mengembangkan Company profile yang mencerminkan kondisi intern perusahaan dan kemampuan yang di milikinya
3. Penilaian terhadap lingkungan ekstern perusahaan, baik dari segi semangat kompititif maupun secara umum.
4. Analisis dalam peluang yang tersedia di lingkungan (yang melahirkan pilihan-pilihan)
5. Identifikasi atas pilihan yang di khendaki yang tidak dapat digenapi untuk memenuhi tuntutan misi perusahaan
6. Pemilihan strategi atas objektive tahunan serta rencana jangka panjang dan garis besar strategi yang di butuhkan untuk mencapai objektif tersebut.
7. Mengembangkan objektive tahunan dan rencana jangka pendek yang selaras dengan objective jangka panjang dan garis besar strategi.
8. Implementasi atas hasil hal-hal di atas dengan menggunakan sumber yang tercantum pada budget (anggaran) dan mengawinkan rencana tersebut dengan sumberdaya manusia, struktur teknologi dan sistem balas jasa yang memungkinkan
9. Review dan evaluasi atas hal-hal yang telah dicapai dalam setiap periode jangka pendek sebagai suatu proses untuk melakukan control dan sebagai input bagi pengambilan keputusan dimasa depan
(Kasali, 1994:43)

2.2.3 Proses Strategi Management
Dalam buku dasar-dasar Public Relations oleh Drs. Soleh Soemirat M.S dan Drs. Elvindro Adrianto, M.Si, mengutip dari perkataan Kasali proses dalam melakukan strategi manajemen yaitu :
1. Melakukan tugasnya sebagai bagian dari strategi managemen keseluruhan organisasi dengan melakukan survey atas lingkungannya dan membantu mendefinisikan misi, sarana, dan objektif organisasi perusahaan.
Keterlibatan PR dalam proses menyeluruh ini akan memberi manfaat yang besar dan sekaligus bagi PR itu sendiri, khususnya pada tingkat koorporat.
2. PR dapat berperan sebagai strategi managemen dengan mengelola kegiatannya secara strategis artinya bersedia mengorbankan kegiatan jangka pendek demi arah perusahaan secara menyeluruh. (Soleh Soemirat M.S dan Drs. Elvindro Adrianto 2003 : 93)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi dalam sebuah kegiatan humas harus dapat membuat rencana rancangan kegiatan jangka panjang pada perusahaan/ organisasi yang disesuaikan dengan visi dan misi sebuah perusahaan, karena pada dasarnya hal itulah yang menjadi pegangan seorang PR dalam menjalankan strategi untuk setiap kegiatannya.
2.3 Tinjauan Tentang Anniversary
2.3.1 Definisi Tentang Anniversary
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Anniversary adalah peringatan atau perayaan hari jadi atau juga sebuah peringatan hari ulang tahun. Jadi yang dimaksud anniversary adalah sebuah perayaan ulang tahun maupun perayaan hari jadi pada setiap kegiatan ini biasanya dirayakan oleh sebuah perusahaan maupun dirayakan oleh para selurh umat manusia.
2.3.2 Tujuan Anniversary
Tujuan diadakannya anniversary adalah untuk memperingati hari jadi atau hari lahir, dalam penelitian ini maksud anniversary adalah perayaan yang dilaksanakan oleh PT. Pikiran Rakyat, tujuannya untuk memperingati berdirinya PT.Pikiran Rakyat dari dulu hingga sampai pada saat ini, untuk mengingat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui selama ini, khususnya bagi PT. Pikiran Rakyat.

2.3.3 Manfaat Diadakannya Anniversary
Manfaat dalam kegiatan anniversary dapat dijadikan sebagai resolusi dalam sebuah perusahaan, mengingat perjalanan yang telah dilalui tidak mudah untuk dijalani, serta untuk menjadi renungan semua pihak, khususnya bagi PT. Pikiran Rakyat.
2.3.4 Kegiatan Di dalam Anniversary
Kegiatan yang dilakukan dalm anniversary biasanya merupakan perayaan dan juga syukuran pada setiap kegiatannya selalu memiliki acara yang bersifat khusus dilaksanakan pada anniversary saja, seperti pada perusahaan yang memberikan hadiah-hadiah pada pelanggannya melalui pemberian diskon, maupun mengkhususkan membuat acara yang mendatangkan artis-artis, ataupun acara yang bersifat sosial kegiatan ini biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusaaan maupun organisasi.

2.4 Tinjauan Tentang Organisasi
2.4.1 Definisi Organisasi
Menurut Wiryanto (2004 : 53) dalam bukunya yang berjudul ilmu komunikasi menjelaskan tentang definisi organisasi :
“Organisasi adalah sebuah kelompok individu yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan tertentu dalam sebuah organisasi terdapat struktur yang bersifat formal dan informal.” (Wiryanto (2004 : 53)

2.4.2 Tujuan Sebuah Organisasi
Menurut Wiryanto dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi menjelaskan tentang tujuan organisasi :
Tujuan sebuah organisasi adalah menghasilkan pendapatan. Akan tetapi berbagai tujuan lain yang mendukung harus pula dicapai jika tujuan akhir tersebut ingin dipenuhi. Misalnya dapat mendatangkan pendapatan, organisasi harus mempertahankan angkatan kerja yang efektif.
Masih menurut Wiryanto, menyebutkan bahwa dalam setiap perusahaan tentunya setiap orang di dalam organisasi secara ilmiah memiliki tujuan yang berbeda. (Wiryanto 2004 : 53).

Peranan Publik Relation di Masa Yang Akan Datang

PR atau Public Relations atau (lagi) dalam bahasa Indonesianya adalah Humas.
Profesi yang satu ini sedang booming di Indonesia sejalan dengan semakin diminatinya jurusan atau fakultas Ilmu Komunikasi. Sayangnya hal ini tidak disertai dengan pemahaman yang baik tentang apa itu PR, fungsi, peran, job desc, dan kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang praktisi PR.
PR atau Public Relations atau (lagi) dalam bahasa Indonesianya adalah Humas.
Profesi yang satu ini sedang booming di Indonesia sejalan dengan semakin diminatinya jurusan atau fakultas Ilmu Komunikasi. Sayangnya hal ini tidak disertai dengan pemahaman yang baik tentang apa itu PR, fungsi, peran, job desc, dan kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang praktisi PR.Ilmu Komunikasi atau PR masih sangat jarang. Padahal peluang karir bidang PR untuk di Indonesia,baru menapakkan beberapa langkah. Di Indonesia ini sering dijadikan departemen tambahan atau sampingan. PR hanya mengikuti perkembangan!!!

Banyak sekali organisasi/perusahaan yang belum memandang pentingnya profesi di organisasi/perusahaan mereka. Padahal sebenarnya posisi PR itu tidak ada itu, tidak bermasalah, yang penting adalah bagaimana bagian-bagian dalam fungsi PR itu ada dalam organisasi/perusahaannya.

Memang memiliki PR tidak akan menjadi jaminan bahwa eksistensi perusahaan/organisasi tersebut akan 1000% membaik di mata stakeholdernya, namun minimal bidang-bidang kerja PR tersebut dilaksanakan dalam manajemen organisasi/perusahaan tersebut. Nah kalau pihak profesional sudah siap, maka calon-calon SDM baru dunia komunikasi bisa memberikan kontribusi mereka dengan maksimal.

PR bicara tentang image/citra, dan bicara tentang image tentu akan bicara tentang stakeholdernya. Gimana mau dapat citra seperti yang dikehendaki oleh perusahaan/organisasi, kalau tidak melakukan strategi dan kampanye PR yang seharusnya dilakukan.

Harapannya dunia PR di Indonesia sekarang dan yang akan datang, berkembangnya menuju kearah yang lebih baik, benar, mampu menjanjikan SDM yang berkualitas terhadap perusahaan/organisasi yang mempunyai badan PR tersebut maupun PR itu sendiri, banyak SDM yang berkualitas namun tidak dapat memberikan tenaga mereka di tempat yang tepat. Dan sebaiknya konsep tentang PR itu benar-benar dimengerti di Indonesia.

Analisa PR Di Masa Yang Akan Datang

Menyambut AFTA 2010 Perdagangan bebas Asia, Indonesia didalamnya pasti memerlukan peranan PR baik Negara tuan ruamah Indonesia maupun Negara Investor seperti China dimana sebagai ajang Deplomasi Politik perdagangan. Vendor-vendor yang datang ke Indonesia dalam berdagang perlu juga mendirikan Perusahaan cabangnya di Indonesia dalam mempermudah sistem perdagannya yang mana peranan PR sangat dibutuhkan demi kelancaran kerjasama Perekonomian Dunia (Global)!! Disini PR akan terangkat secara tersendirinya tak hanya sebagai Ujung Tombak melainkan Pemersatu.

Pengertian Publik Relation

Pengertian PR
Public Relations adalah Keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antar suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.( Kamus IPR, 197 )
Sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun keluar, antar suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian, ( Frank Jefkins, 1995 )
Sejarah dan Perkembangan PR
Public Relations (PR) secara konsepsional dalam pengertian “State of Being “ di Indonesia baru dikenal pada tahun 1950-an, Setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Dimana pada saat itu, Indonesia baru memindahkan pusat ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta. Tentu saja, proses pembenahan struktural serta fungsional dari tiap elemen-elemen kenegaraan baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif marak dilakaukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah menganggap penting akan adanya badan atau lembaga yang menjadi pedoman dalam mengetahui“ Who we are, and what should we do,first? “. Oleh sebab itu, dibentuklah Departemen Penerangan. Namun, pada kenyataannya, departemen tersebut hanya berdedikasi pada kegiatan politik dan kebijaksanaan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Dengan kata lain, tidak menyeluruh.
Dengan alasan demikian, pada tahun 1962 , dari Presidium Kabinet PM Juanda, menginstruksikan agar setiap instansi pemerintah harus membentuk bagian atau divisi Humas (PR), ditahun itulah, periode pertama cikal bakal adanya Humas di Indonesia.
Namun, tidak berhenti disitu saja, PR berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi. Dimulai dengan pengambilan kata “Humas” yang merupakan terjemahan dari Public Relations. Maka tak heran, kita sering menemui penggunaan sebutan “ Direktorat Hubungan Masyarakat” atau “Biro Hubungan Masyarakat” bahkan “ Bagian Hubungan Masyarakat “ sesuai dengan ruang lingkup yang dijangkau.
Jika dikaitkan dengan state of being, dan sesuai dengan method of communication, maka istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Hubungan Masyarakat itu, hanya mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi, misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations.
Itulah yang dialami oleh Indonesia, yang ternyata lupa akan aspek secara hakiki dari PR itu sendiri. Seperti, Pertama, Sasaran PR adalah public intern (internal publik ) dan public ekstern (Eksternal Publik). Internal Publik adalah orang-orang yang berbeda atau tercakup organisasi, seluruh pegawai mulai dari staff hingga jendral manager. Eksternal Publik ialah orang-orang yang berada di luar organisasi yang ada hubungannya dan yang diharapkan ada hubungannya. Seperti Kantor Penyiaran, PR harus menjalin hubungan dengan pemerintah, asosiasi penyiaran Indonesia, sebagai organisasi yang berhubungan, selain itu dengan berbagai macam perusahaan, biro iklan, LSM, dan masyarakat luas, sebagai calon pembuatan relasi kerja sama.
Kedua, kegiatan PR adalah komunikasi dua arah( reciprocal two ways traffic communications ). Artinya, dalam penyampaian informasi PR diharapkan untuk menghasilkan umpan balik, sehingga nantinya dapat menjadi bahan evaluasi perusahaan agar lebih baik.
Ternyata, orientasi PR Indonesia belum seutuhnya dapat dikatakan sebagai “ PR Sejati “. Sebab berbeda dengan konsep yang diterapkan oleh bapak PR, Ivy L.Lee, yakni mempunyai kedudukan dalam posisi pemimpin dan diberi kebebasan untuk berprakarsa dalam meyiapkan informasi secara bebas serta terbuka.
Maka tidak heran, di periode pertama tersebut, PR di Indonesia secara struktural belum banyak yang ditempatkan dalamtop management. Ironis memang, dalam kenyataannya pemimpin perusahaan sering meminta kepala humas untuk mendampingi ketika menghadapi publik eksternal. Selain itu kegiatan masih banyak bersifat penerangan satu arah ke publik eksternal semata-mata.
Namun, perkembangan PR di Indonesia semakin maju, sehingga kini dapat dikatakan sebagai “PR Sejati”. Hal ini, dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga membawa perubahan zaman.
Terbukti di periode kedua, pada tahun 1967-1971, terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dan pembangunan, khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.
Di periode ketiga tahun 1972 dan 1987, munculnya PR kalangan profesional pada lembaga swasta umum, yakni didirikannya Perhumas ( Public Relations Associations of Indonesia ) pada tanggal 15 Desember 1972. Konvensi Humas di Bandung tahun 1993, telah menetapkan Kode Etik Kehumasan Indonesia ( KEKI ). Perhumas tercatat sebagai anggota International Public Relations Associations (IPRA) dan Forum Asean Public Relations Organizations( FAPRO ).
Pada tanggal 10 April 1987 di Jakarta dibentuk suatu wadah profesi PR lainnya yang disebut Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia ( APPRI ), yang bergerak dalam konsultan jasa kehumasan.
Di periode keempat, tahun 1995 hingga sekarang, perkembangan PR sangat pesat. Ternyata perkembangan PR tumbuh dikalangan swasta bidang professional khusus (spesialisasi) Humas bidang idustri pelayanan jasa. Ditandai terbentuknya Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3) pada tanggal 27 November 1995. Berdirinya Forum Humas Perbankan (Forkamas) pada tanggal 13 September 1996.
Sehingga kini, dapat sinkron dengan rumusan Fungsi PR dari Departemen Penerangan R.I, yaitu :
1. Melaksanakan Hubungan ke dalam, yaitu pemberian pengertian tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “Internal Public” yaitu para karyawan.
2. Melakukan hubungan ke luar, yaitu pemberian informasi tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “External Public” yaitu masyarakat pada umumnya.
3. Melakukan pembinaan serta bimbingan untuk mengembangkan Kehumasan sebagai medium penerangan.
4. Meyelenggarakan Koordinasi Integrasi dan Sinkronisasi serta kerjasama kegiatan Hubungan Masyarakat untuk penyempurnaan pelayanan penerangan terhadap umum.

Analisis Publik Relation Lewat Search Engine

Analisa dari Search Engine
Terdapat empat katagori dalam mesin pencari, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.ini dia analisa dari saya.
1) Mesin pencari direktori topik mesin pencari ini merupakan mesin pencari dimana anda bisa mencari informasi dengan cara memilih katagori topic. hal ini sangat memudahkan anda apabila keyword yang anda cari terlalu umum apabila dicari menggunakan mesin pencari indeks kata kunci saja. mari kita ambil contoh Beaucoup, mesin pencari yang satu ini sedikit berbeda dengan mesin pencari sejenis pada umumnya, terlihat sangat simple dengan gambar yang tidak berlebihan, sehingga memudahkan anda dalam membuka halaman tanpa harus menunggu sehingga gambar-gambar dan advertisement selesai diunduh, hal ini tentu sangat berguna dalam efisiensi waktu. begitu anda membuka alamat ini, langsung muncul daftar direktori yang menunjukkan spesialisasi dari keyword yang akan anda cari nantinya. Mulai dari ha-hal umum yang biasa anda cari hingga pencarian orang pada domain email, namun mungkin untuk beberapa orang yang menginginkan search engine, yang eye-catching, perlu penyesuaian ketika menggunakan search engine ini.
2) Mesin pencari MetaSearch, mesin pencari ini merupakan mesin pencari berskala global diaman memungkinkan anda mencari sesuatu melalui beberapa mesin pencari secara bersamaan tanpa harus menggunakan membuka tab terlalu banyak untuk beberapa search engine. mari kita ambil contoh dogpile, mesin pencari ini juga terlihat berbeda pada kelasnya. mesin pencari ini terintegrasi dengan beberapa search engine diantaranya yahoo.com dan bing.com. selain itu mesin pencari ini memiliki kekuatan dengan adanya yellowpages dan white page pada tab searchboxnya. begitu di buka begitu eye catching dengan mascot enjing menghiasi halamannya. Yellowpages sangat berguna pada pencarian bisnis apa yang kita hendak cari berikut dengan kota dan negara asal. sayangnya mesin pencari ini masih kalah populer dibanding mesin pencari keyword index semisal google.
3) Mesin pencari khusus, mesin pencari ini mengkhususkan pencariannya pada bidang tertentu saja, sehingga kita lebih dimudahkan ketika mencari informasi lebih jauh mengenai topic khusus tersebut. mari kita ambil contoh, imdb.com, mesin pencari ini mengkhususkan pada bagian sinema/film dari jaman dulu, hingga yang paling uptodate. selain informasi film, trailer, dan foto cast pada saat red carpet, disuguhkan pula list dvd yang bakal rilis dalam waktu dekat, juga disertai dengan synopsis singkat. yang lebih hebat, imdb juga menyediakan movie ticket bagi siapa saja yang berminat membeli tiket online, tetapi tentunya hanya berlaku di beberapa bioskop di amerika.

Publisitas PR Lewat Search Engine
PR sangat memerlukan media teknologi informasi lewat internet dimana mempermudah mempublisitaskan PR dalam menjangkau khalayak. untuk mempromosikan produknya baik barang maupun jasa. Dengan adanya publisaitas lewat media pencari (search engine) PR akan lebih mudah dan praktis untuk memperkenalkan produknya, publik juga mudah untuk melihat produk sebuah perusahaan yang diiklankan dengan hanya mengunjungi internet dan melakukan search engine dan mengetik keyword sesuai apa yang ingin dibuka. Biaya yang dikeluarkan oleh PR dengan media pencari pun akan lebih murah atau terjangkau dibandingkan menggunakan metode pemasaran tradisional lainnya. PR juga harus mempunyai keyword yang startegis untuk memudahkan publik mencari produk anda dengan membeli perangkat lunak yang mendukung PR untuk mempromosikan produknya. Sekarang juga banyak situs-situs yang mendukung seperti Google, Yahoo. MSN. PR juga tidak perlu repot-repot untuk membuat Banner atau spanduk untuk memprosikan produknya. Dalam mempromosikan barangnya PR harus memiliki startegi khusus untuk menarik publik untuk membuka situs yang mereka buat. Publisitas PR yang dilakukan melalui di situs pencari dapat bermanfaat juga untuk menyebarkan kegiatan Eksternal dan Internal dari perusahaan tempat PR bekerja, jadi publik bisa tahu apa yang dilakukan sebuah perusahaan hanya dengan mengetik keyword yang mereka inginkan. intinya situs pencari sangat efektif untuk melakukan promosi dan kegiatan-kegiatan yang PR lakukan.

PENERAPAN ILMU FORENSIK DALAM HUKUM PIDANA

Terbentuknya keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana didasarkan pada hasil pemeriksaan alat-alat bukti yang dikemukakan pada pros...