Search This Blog

Loading...

12/4/14

Analisis Pembunuhan yang dilakukan oleh Narapidana

KASUS 
Jumat, 1 Juni 2012
BANDARLAMPUNG – Jaksa penuntut umum (JPU) Eka Septriana Sari menuntut Paryono dengan pidana penjara selama 12 tahun. Narapidana (napi) Lapas Kelas I Bandarlampung yang menjadi pesakitan lantaran diduga membunuh Rudi Suroso, rekan satu selnya, ini dinilai terbukti melanggar 338 KUHP. ’’Berdasarkan analisis yuridis, semua unsur pasal 338 KUHP dalam dakwaan primer telah terpenuhi. Sehingga, kami tidak akan membuktikan lagi unsur dakwaan subsider yang tercantum dalam pasal 353 ayat 3 KUHP dan lebih subsider pasal 351 ayat 3 KUHP,’’ papar JPU dalam sidang di Pengadilan Negeri Kelas I A Tanjungkarang kemarin (31/5). JPU menyatakan, Paryono dinyatakan bersalah dan selama pemeriksaan di persidangan tidak ditemukan adanya hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana kepada diri terpidana kasus pencurian dengan kekerasan itu. ’’Hal yang memberatkan terdakwa adalah perbuatannya mengakibatkan saksi korban meninggal dunia dan terdakwa sedang menjalani hukuman penjara. Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa telah menyesali dan mengakui perbuatannya serta bersikap sopan dalam persidangan,’’ tutur Eka.Dalam kasus ini, barang bukti berupa lumpang yang terbuat dari batu berwarna hitam dengan diameter 20 cm berbentuk bulat, satu unit ponsel berwarna hitam merah berikut dua simcard dirampas untuk dimusnahkan.Dalam sidang perdana beberapa waktu lalu, JPU menjerat Paryono dengan dakwaan primer melanggar pasal 338 KUHP, subsider pasal 353 ayat 3 KUHP, lebih subsider pasal 351 ayat 3 KUHP.

11/26/14

MENYOAL TINDAKAN ALA BAR-BAR MAIN HAKIM SENDIRI

Oleh: Refki Saputra
“Kejahatan tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi juga karen ada kesempatan”.
Inilah sepenggal kalimat yang diampaikan oleh “bang Napi” dalam salah satu tayangan berita kriminal yang terkesan sederhana namun selalu mewanti-wanti kita (baca: penontonya) untuk selalu wasapada dari tindak kejahatan yang ada disekitar kita. Namun jangan lupakan juga, niat untuk berbuat jahat yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya berasal dari dalam diri mereka, tapi juga karena didesak oleh suatu hal yang ada di luar diri mereka senadiri. Artinya, ia melakukan kejahatan karena suatu keterpaksaan bukan karen sikap batinnya yang memang jahat (mens rea).

PENINGKATAN KEAMANAN, KETERTIBAN, DAN PENANGGULANGAN KRIMINALITAS

A. Pendahuluan
Upaya penanggulangan gangguan keamanan, ketertiban, dan tindak kriminalitas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan walaupun masih ditemukan gangguan keamanan dan hambatan yang dapat mengganggu suasana yang sudah kondusif tersebut. Upaya pemberantasan perjudian, penanganan pembalakan liar (illegal logging) dan pencurian ikan (illegal fishing), serta penanganan penyalahgunaan narkoba yang relatif intensif pada akhir-akhir ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Langkah Pemerintah tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan seyogyanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan. Selain itu, pemberantasan perjudian yang konsisten juga akan membangkitkan semangat warga untuk bekerja keras dan tidak terbuai oleh harapan kosong keuntungan berlipat.

10/12/14

Analisa Kasus (Pasal 339 KUHP)

KASUS
Pada tanggal 24 Mei 2008 salah seorang ABG di Blitar menjadi korban pemerasan. Pelakunya 2 orang dengan mengendarai sepeda motor. Korban diminta untuk menyerahkan
dompet dan handphone. Oleh karena korban masih mempertahankan handphonenya, pelaku
lantas mengeluarkan sebilah pisau panjang dan memberikan ancaman kepada
korban. Sesaat setelah ancaman itu dilontarkan kepada korban, pelaku menusukkan
pisau tersebut ke bagian perut korban. Akibatnya, korban bersimbah darah dan
akhirnya nyawa korban tidak tertolong. Setelah berhasil menguasai barang, kedua
pelaku melarikan diri.